Headlines News :
">Index »'); document.write('

document.write(unescape("%3Cscript src=%27http://s10.histats.com/js15.js%27 type=%27text/javascript%27%3E%3C/script%3E")); ?max-results=10">Label 1

');
Showing posts with label Purworejo itu Ada. Show all posts
Showing posts with label Purworejo itu Ada. Show all posts

Kue Lompong “Si Hitam” Jajanan Asli Purworejo

Kendati Kabupaten Purworejo bukan daerah tujuan utama wisatawan, namun memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah. Bayak jajanan khas kabupaten yang sudah berusia 1111, dapat dinikmati para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Makanan khas Purworejo itu, diantaranya kue lompong, yang sudah ada sejak puluhan tahun silam dan dibuat secara turun temurun.
Kue lompong adalah  kue basah manis  yang  terbuat dari adonan  tepung beras ketan, gula kelapa, gula  pasir dengan  isi bulir kacang tanah  di dalamnya. Kue lompong menjadi menarik  karena bentuknya seperti kue mata sapi tetapi  berwarna hitam. Warna hitam pada kue ini berasal dari tanaman lompong atau lumbu atau  talas   yang dilumatkan dan dicampur ke dalam adonan kue. Di samping itu, kue ini dibungkus menggunakan klaras atau daun pisang yang sudah kering
Sentra pembuatan kue lompong ada di Kelurahan Pangenrejo dan Pangen Jurutengah dan sebagian Kledung Kradenan. Kendati di luar desa tersebut ada yang membuat, namun skalanya kecil. Pemasaran hingga luar kabupaten seperti Yogyakarta, Muntilan, Magelang. Makanan itu tidak menggunakan bahan kimia seperti pewarna dan pengawet, sehingga masih aman dikonsumsi manusia. Cara pengolahannya pun masih sederhana dan tradisional, belum tersentuh teknologi modern.
Salah satu pembuatnya, Meiske Lystya Permatasari, (28), warga Jl Tentara Pelajar no. 24, ketika ditemui di rumahnya sekaligus sebagai sebagai tempat usaha, mengungkapkan bahwa ia membuat kue lompong sejak puluhan tahun silam. Keahliannya diperoleh dari kakeknya semasa masih hidup. Kemudian dilanjutkan ibunya, Ruth Ekayanti, yang sampai sekarang juga masih memproduksi. Setelah ia berkeluarga dan menempati rumah sendiri, ia juga membuat dan memasarkan hasil usahanya.
Tiap hari ia mampu menghabiskan tepung beras ketan sekitar 15 kg. Tiap satu kg beras ketan, membutuhan kacang tanah sekitar 7 ons. Ia dibantu 6 orang pekerja. Cara membuatnya, adonan tepung beras ketas diberi garam secukupnya, kemudian diaduk hingga kalis. Dibuat bulat-bulat, dan diisi adonan pecahan kacang tanah yang dibumbui gula kelapa. Setelah itu dipipihkan. Warna hitam sebagai cirikasnya, menggunakan tanaman lompong atau talas yang dibakar.

Nilai Historis Dan Kebanggaan Bedug Pendowo



Bedug Pendowo merupakan Bedug Raksasa kebanggaan masyarakat Purworejo. Bedug ini mempunyai peranan sangat besar dalam penyebaran Islam di Purworejo. Bedug ini juga dicatat sebagai Bedug terbesar di Dunia.
Purworejo adalah sebuah kota kecil di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah. Selain mempunyai wisata pantai, Purworejo juga mempunyai wisata religi dan Budaya yang menajubkan yaitu Bedug Raksasa, yang sering di sebut Bedug Pendowo. Bedug ini terletak di dalam Masjid Darul Muttaqien disebelah barat alun-alun kota.
Menurut website resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo, menyebutkan bahwa bedug ini merupakan Bedug terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Dunia. Ukuran spesifikasinya adalah Panjang 292 cm, keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, diameter belakang 180 cm, diameter depan 194 cm dan bagian yang ditabuh terbuat dari Kulit Banteng.

Benteng Pendem Purworejo ( Terpendam Tanpa Cerita )



Benteng Pendem terletak di Desa Kalimaro, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Letaknya di puncak bukit, cukup indah, deburan ombak pun terlihat bukan lagi seperti garis tipis seperti di seplawan, ini dikarenakan lokasi benteng pendem tidak berapa jauh dari pantai. Sayangnya Benteng ini tidak dirawat dan dijaga sebagaimana situs sejarah lainnya, bahkan papan penunjuk jalanpun tidak ada. Kondisi ini di perparah dengan bentuk benteng yg dindingnya penuh coretan dan beberapa besi yg difungsikan sebagai tangga hilang dicuri. . Sangat tidak terawat!!
Benteng ini menyimpan sejarah eksistensi Jepang di Kabupaten Purworejo.

Nuansa " Mak Nyus " Sego Penek Purworejo

PESONA kuliner di Kabupaten Purworejo seperti tidak ada habisnya. Setiap kawasan mempunyai menu khas yang tidak terdapat di wilayah lainnya. Jadi, jika ingin mencicip berbagai makanan khas, tinggal pilih mau ke mana arah yang dituju.
Wilayah selatan kabupaten itu juga menyimpan kulner khas bahkan sangat tradisional, yakni sego penek. Sego penek merupakan masakan yang mengkombinasikan nasi dengan sayur lodeh nangka dan daging atau jeroan ayam. Tidak ada yang tahu secara pasti kapan makanan itu pertama kali muncul. Namun masakan itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang.Bahkan sebagian mempercayai kalau sego penek menjadi asupan energi tentara republik yang berjuang di wilayah selatan Purworejo. "Tidak ada yang tahu pasti kapan sego penek mulai dikenalkan.

Sejarah Tari Dolalak Purworejo

Kata dolalak konon masyarakat Purworejo mengatakan bhawa kata dolalak berasal dari kata do la la ya itu ucapan notasi lagu diatonis yang dinyanyikan oleh serdadu – serdadu Belanda dalam tangsi, yang dominan dinyanyikan sambil menari – nari. Ucapan do la la yaitu dari lagu 1 – 6 – 6, oleh orang – orang Purworejo yang dekat dengan tangsi ditirukan menjadi dolalak, trmasuk meniru gerakan dan motif busana yang dipakai serdadu Belanda yang akhirnya menjadi kesenian rakyat Purworejo. Asal -Usul kesenian sdolalak konn ditemukan oleh 3 santri yang masih bersaudara yang menirukan gerak yang ditarikan serdadu Belanda. Mereka itu adalah Rejotaruno, Duliyat,dan Ronodimejo. Kira – kira pada tahun 1925 ketiga santi itu brsama masyarakat yang pernah menjadi serdadu Belanda membentuk Kesenian dolalak. Awalnya kesaenian dolalak tidak diiringi dengan instrumen musik namun cukup dengan vokal yang dinyankan silih berganti oleh para penari secar bergantian. Perkembangan selanjutnya masyarakt mulai menyukai kesenian tersebut, dan selanjutnya tarian dolalak diberi instrumen iringan dengan lagu – lagu tembang jawa dan lagu solawatan. mwemasuki dasawarsa ke- 5 abad XX kesenian dolalak ditarikan oleh kaum pria dan terbatas wilayah tertentu.Namun mnmasuki dasawarsa ke- 7 abad XX pertunjukan dolalak sudah boleh ditarikan oleh wanita.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. adeitu prast - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger